Pasar Saham RI Masih Atraktif

saham-emiten1

Pasar saham Indonesia masih menjadi salah satu pasar saham yang paling atraktif di dunia. Dengan pertumbuhan laba emiten tahun ini yang diperkirakan mencapai 22% dan didukung perekonomian nasional yang ditargetkan tumbuh 5,4%, tak ada alasan bagi investor untuk berpaling dari pasar saham Indonesia.

Terlebih saham di bursa domestik masih sangat likuid. Sekitar 85% saham emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih aktif diperdagangkan dengan nilai perdagangan rata-rata Rp 8,9 triliun per hari. Selain itu, valuasi saham di BEI sudah tergolong murah, dengan rata-rata price to earning ratio (PER) 14,2 kali dan price to book value (PBV) 2,2 kali.

Adapun bearish yang terjadi saat ini lebih disebabkan faktor eksternal, terutama rencana Bank Sentral AS (The Fed) menaikkan Fed funds rate (FFR). Rencana The Fed telah memicu pelemahan rupiah dan aliran modal keluar (capital outflow). Karena itu, Bank Indonesia (BI) perlu menaikkan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) sekitar 50 bps untuk meredam capital outflow dan depresiasi rupiah, sekaligus merespons ekspektasi para pelaku pasar yang menghendaki suku bunga acuan di dalam negeri naik.

Di pihak lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah kebal terhadap isu bom. Kalau pun ada, sifatnya hanya sesaat. Para pelaku pasar juga tetap tegar menghadapi kebiadaban aksi teoris. Hal itu tercermin pada pergerakan IHSG yang hanya terkoreksi tipis pada perdagangan Senin (14/5), meski pada pagi hari sempat turun tajam.

Hal itu terungkap dalam wawancara Investor Daily dengan Direktur Utama PT Kresna Graha Investama Tbk (KREN) Michael Steven, Wakil Ketua Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Gunawan Tjokro, dan Direktur Penilaian Perusahan BEI Samsul Hidayat di sela acara Investor Awards 2018 yang diselengarakan Majalah Investor, di Jakarta, Senin (14/5)

Comments are closed here.