Otoritas Bursa BEI Berharap BI 7-DRRR Naik 50 Bps

gunawan-tjokro1

Sementara itu, Direktur Utama BEI Tito Sulistio mengatakan, BI dapat mempertimbangkan harapan pelaku pasar agar suku bunga acuan (BI 7-DRRR) dinaikkan sekitar 50 bps. “Soalnya, kenaikan suku bunga acuan merupakan salah satu yang menjadi perhatian utama investor di pasar saham. Isu lain yang menjadi fokus investor di antaranya progres penerimaan pajak dan subsidi minyak,” tutur Tiro.

Berdasarkan data BEI, laba emiten tahun lalu tumbuh 22,29% dan selama 10 tahun terakhir rata-rata tumbuh 16,34% per tahun. Tahun ini, emiten di BEI diperkirakan membukukan pertumbuhan laba sebesar 21-22%.

Data BEI juga menunjukkan, pertumbuhan ekonomi hampir selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan laba emiten dan IHSG. Pada 2016, IHSG tumbuh 15,32% saat laba bersih emiten dan perekonomian nasional masing-masing tumbuh 24,44% dan 5,03%.

Ketika perekonomian Indonesia tumbuh 5,07% pada 2017, IHSG dan laba bersih emiten masing-masing tumbuh 19,99% dan 22,29%. Tahun ini, dengan asumsi perekonomian nasional tumbuh 5,3%, IHSG diproyeksikan tumbuh sekitar 9% ke level 6.921,20.

Di sisi lain, berdasarkan data Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah sejak awal Januari hingga Senin (14/5) terdepresiasi 3,2% ke level Rp 13.976 per dolar AS. Rupiah sempat menembus level psikologis Rp 14.000 per dolar AS, sebelum berangsur menguat lagi.

Bersamaan dengan pelemahan rupiah, IHSG selama tahun berjalan (year to date/ytd) terkoreksi turun 6,43%. Sejalan dengan itu, investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) saham senilai Rp 37,82 triliun

Comments are closed here.