Kondisi Fundamental Emiten Masih Baik

Tito Sulistio mengungkapkan, rencana The Fed menaikkan FFR telah memicu pelemahan rupiah dan capital outflow. Karena itu, BI sebaiknya menaikkan BI 7-DRRR sekitar 50 bps untuk meredam capital outflow dan depresiasi rupiah.

“Itu sekaligus untuk merespons ekspektasi para pelaku pasar yang menghendaki suku bunga acuan di dalam negeri naik,” ujar dia.

Kecuali isu rupiah, kata Tito, investor di pasar saham terus mencermati progres penerimaan pajak dan subsidi minyak dalam APBN yang diperkirakan membengkak akibat kenaikan harga minyak mentah dunia.

Tito mengakui, selain faktor global, bursa saham domestik mendapat tekanan oleh teror bom di Surabaya. “Kami (BEI) prihatin, tapi kami tegar. Yakinlah, kepercayaan para investor belum hilang. Buktinya, likuiditas pasar saham kita masih baik,” tegas dia.

Dia menambahkan, akhir-akhir ini ada fenomena baru di BEI berupa banyak masuknya investor domestik jangka panjang. “Misalnya dari manajer investasi melalui reksa dana,” kata Tito.

Menurut Tito Sulistio, jumlah investor masih terus bertambah. Sekitar 85% saham di BEI juga masih aktif diperdagangkan. “Average trading value di BEI naik dari Rp 7,7 triliun pada 2017 menjadi Rp 8,9 triliun saat ini,” ucap dia.

Dirut BEI mengemukakan, sejauh ini otoritas bursa belum perlu melakukan intervensi pasar berupa imbauan untuk para emiten untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham. Sebab, kondisi fundamental emiten di BEI masih baik.

Comments are closed here.