Emiten masih galau ekspansi di 2016

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHDG)Pekan lalu, wajah chief executive officer (CEO) salah satu emiten besar tampak suram. Padahal biasanya, sang CEO ini acap menampakkan wajah ceria. Rupiah yang terus melemah dan tak menentu, membuatnya gundah gulana.

Menjelang akhir tahun, biasanya tugas CEO adalah menentukan rencana kerja dan anggaran tahun depan. “Sulit bos. Pengaruh  kurs baru terasa tahun depan. Dengan kurs tak menentu, kami harus menyiapkan beberapa skenario anggaran, termasuk capex,” terangnya. Maklum, perusahaannya cukup banyak menggunakan eksposur dollar.

Ia tak sendiri. Banyak emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) sangat berhati-hati merencanakan ekspansi bisnis tahun depan. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), misalnya, memprediksi belanja modal (capex) pada 2016 hanya untuk menanam sawit di lahan 5.000 hektare.

Kebutuhannya US$ 30 jutaUS$ 40 juta. Perkiraan capex ini menyusut dari target 2015 , yakni US$ 40 juta-US$ 45 juta. “Kami mengevaluasi lagi rencana ekspansi atau akuisisi besar. Juga belum ada kebutuhan membangun pabrik baru,” ungkap Hadi Susilo, Sekretaris Perusahaan SSMS, ke KONTAN, Kamis (3/9).

PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) juga memangkas capex tahun depan. Pada 2016, SRIL menyiapkan belanja modal US$ 86 juta untuk membangun dua pabrik pemintalan dan penenunan. Capex itu turun 17,3% ketimbang target tahun ini senilai US$ 104 juta.

Emiten lain, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) berniat menahan ekspansi. “Kami tidak ekspansi dulu karena melihat pasar belum kondusif,” ujar Yuni Gunawan, Sekretaris Perusahaan MYOR. Dia membeberkan sejumlah tantangan, seperti fluktuasi nilai tukar, kenaikan harga bahan baku dan peraturan pemerintah.

Belanja modal MYOR tahun depan diprediksi sama dengan tahun ini sekitar US$ 50 juta. Pada 2014, capex MYOR mencapai US$ 75 juta.

PT Indosat Tbk (ISAT) juga akan berhati-hati menentukan capex karena melihat kondisi makro ekonomi. Andromeda Tristanto, Hubungan Investor  ISAT menyebut 40% – 50% porsi dollar AS di capex ISAT.

Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Franciscus Welirang menyatakan, rencana ekspansi emiten tahun depan juga bergantung pada dukungan pemerintah. “Jangan dulu ada regulasi yang membebani,” ujar dia.

Baca Selanjutnya disini