AEI berharap rupiah kembali normal

berita-saham1

Direktur Penilaian Perusahan BEI Samsul Hidayat menjelaskan, dalam pertemuan dengan BI, baru-baru ini, bank sentral menyatakan tengah menyiapkan kebijakan yang dapat membuat nilai tukar rupiah berada di titik yang nyaman.

“Kami yakin akan ada kebijakan untuk mencegah pelemahan rupiah lebih lanjut,” ujar Samsul ketika ditanya tentang kemungkinan BI menaikkan BI 7-DRRR dalam rapat dewan gubernur (RDG), Kamis (17/5) lusa.

Samsul mengakui, penguatan dolar AS terhadap rupiah dan mata uang negara-negara lain belakangan ini merupakan pertanda bahwa dolar sedang mencari titik keseimbangan baru.

Wakil Ketua AEI Gunawan Tjokro mengemukakan, gejolak rupiah yang akhir-akhir ini merepotkan para pelaku bisnis di dalam negeri lebih disebabkan sentimen global, terutama rencana kenaikan FFR, selain isu perang dagang, kenaikan harga minyak, dan sentimen eksternal lainnya.

“Kami, para emiten, berharap rupiah kembali normal, sehingga para pengusaha bisa lebih baik lagi dalam menetapkan ekspansi bisnisnya,” tandas dia.

Dia menambahkan, depresiasi rupiah yang terlampau tajam bisa mengganggu kinerja bisnis perusahaan-perusahaan di dalam negeri, bahkan perekonomian nasional secara keseluruhan. Soalnya, impor Indonesia masih tinggi.

“Karena itu, bagi perusahaan, kestabilan rupiah menjadi hal yang penting. Tapi kami tetap optimistis perekonomian kita bisa mengatasi tantangan ini,” papar Gunawan.

Dalam bagian lain, Gunawan mengatakan, AEI berkomitmen untuk senantiasa mendukung Otoritas Jasa Keuangan (OJK), self-regulatory organization (SRO), dan asosiasi terkait lain untuk mengembangkan industri pasar modal domestik yang efisien, teratur, dan transparan sesuai undang-udang pasar modal yang berlaku

Menurut dia, pasar modal di dalam negeri dihadapka= pada situasi yang dinamis dari waktu ke waktu. “Untuk mengantisipasi hal itu, para emiten di BEI mesti menerapkan best practice. Apalagi Indonesia sudah masuk G-20, bahkan ke depan diharapkan masuk G-5,” ujar dia

Comments are closed here.