Panel dengan Bootstrap
Direktur Utama BEI Inarno, Ketua OJK Wimboh dan Eksekutif Pasar Modal OJK Hosen, membuka perdagangan saham dalam rangka HUT Pasar Modal ke 42 di gedung BEI Jakarta Senin (12/8).(Foto:Elvis)

Selama 42 Tahun, BEI Terus Cari Cara Perluas Produk Dan Layanan Investor


  EmitenNews.com - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah merayakan diaktifkan kembali oleh Pemerintah Republik Indonesia yang ke 42 tahun. Berbagai pencapaian dan kinerja positif terus dicatatkan sejak diaktifkan kembali pada 10 Agustus 1977. Direktur Utama BEI Inarno mengatakan, kebutuhan akan tersedianya variasi layanan dan produk pasar modal menjadi salah satu tantangan utama bagi industri Pasar Modal Indonesia. Sebagai upaya untuk menjawab tantangan tersebut, Self-Regulatory Organization (SRO) atau selaku regulator melakukan perluasan layanan dan produk melalui pengembangan berbagai program kerja, baik yang dilaksanakan SRO secara bersama-sama, maupun yang diimplementasikan di masing-masing SRO. "Perluasan variasi layanan dan produk pasar modal diharapkan dapat meningkatkan kuantitas Perusahaan Tercatat serta investor, sehingga Pasar Modal Indonesia dapat menjadi semakin kuat dan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya di gedung BEI Jakarta, Senin (12/8). Perluasan layanan dan produk yang dilakukan oleh SRO, kata dia, selalu diupayakan agar selaras dengan tujuan memberikan perlindungan terhadap para stakeholder. Melalui supervisi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), BEI bersama dengan Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) selalu berupaya untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan dalam bertransaksi di pasar modal. "OJK dan SRO juga menyadari pentingnya penerapan tata kelola Perusahaan yang baik (Good Corporate Governance) di setiap institusi pasar modal, sebagai bagian dari upaya pengembangan dan perlindungan seluruh aktivitas di Pasar Modal," tuturnya.

  Di tengah tantangan dan dinamika pasar keuangan global sepanjang satu semester di tahun 2019, Inarno menambahkan, Pasar Modal Indonesia mampu tumbuh signifikan dan bersaing secara kompetitif. Sampai dengan 9 Agustus 2019 atau selama 42 tahun Pasar Modal Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah tumbuh mencapai 6.282,132 atau terus tumbuh sejak 1977. "Hal ini diikuti dengan jumlah Perusahaan Tercatat yang meningkat pesat, dari Semen Cibinong sebagai Perusahaan Tercatat pertama pada tahun 1977, sampai dengan 649 Perusahaan Tercatat di tahun 2019 dengan total nilai kapitalisasi pasar mencapai Rp7.205 triliun," imbuhnya. Sebagai informasi, selama 42 tahun terakhir, Pasar Modal Indonesia berhasil mencatatkan Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) sebesar Rp9,74 triliun dan terus meningkat sejak tahun 1977. Terlebih semenjak diimplementasikannya siklus penyelesaian transaksi T+2 pada 28 November 2018, sampai dengan 9 Agustus 2019 terjadi peningkatan likuiditas perdagangan yang direpresentasikan oleh volume, nilai, dan frekuensi transaksi saham harian yang naik sebesar 35 persen untuk volume transaksi harian, RNTH meningkat 16 persen, dan frekuensi transaksi saham harian meningkat 17 persen dibandingkan dengan periode 1 tahun sebelumnya. Sementara dari sisi Jumlah Perusahaan Tercatat, sampai dengan 2 Agustus 2019 telah terdapat 32 jumlah Perusahaan Tercatat baru, sehingga total Perusahaan Tercatat mencapai 649. Selain pencatatan efek saham juga terdapat 6 pencatatan efek ETF baru, 2 DIRE, dan 1 Dinfra. Sehingga total terdapat 41 pencatatan efek baru pada pertengahan tahun 2019. (Romys)


Disclaimer:
Berita ini merupakan kerja sama Asosiasi Emiten Indonesia dengan Emitennews.com.
Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Emitennews.com.