Panel dengan Bootstrap
Ilustrasi suasana Kota Jakarta. Tiga sektor diyakini bisa mendorong pertumbuhan investasi dan ekonomi dalam negeri; smelter, e-commerce, dan pariwisata. Karena itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) optimistis jumlah investasi sepanjang 2019 bisa melonjak minimal 11 persen. (Nasir/EmitenNews.com).

Tiga Sektor Diyakini Bisa Dorong Pertumbuhan dan Ekonomi dalam Negeri

Badan Koordinasi Penanaman Modal optimistis jumlah investasi sepanjang 2019 bisa melonjak minimal 11 persen

  EmitenNews.com - Tiga sektor diyakini bisa mendorong pertumbuhan investasi dan ekonomi dalam negeri; smelter, e-commerce, dan pariwisata. Karena itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) optimistis jumlah investasi sepanjang 2019 bisa melonjak minimal 11 persen dari posisi 2018 yang Rp721,3 triliun. Hingga akhir Desember 2019 investasi Rp800 triliun. Kepada pers, di kantonya, Selasa (30/7/2019), Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Thomas Trikasih Lembong mengungkapkan keyakinannya itu. Tahun ini, kata dia, investasi bisa tumbuh belasan persen atau low double digit. Terutama karena cerahnya tiga sektor unggulan, smelter, e-commerce, dan pariwisata itu

  Sejauh ini Thomas melihat tetap tingginya ketertarikan investor untuk menanamkan dananya di Indonesia. Itu terlihat setelah Presiden Joko Widodo menyatakan akan mengejar seluruh pihak yang menghambat investasi di Indonesia dalam pidatonya di Sentul pertengahan Juli ini. "Paradigma kebijakan yang beliau tempuh untuk periode kedua pemerintahannya (2019-2024) disambut antusias. Sejak saat itu permintaan informasi dan diskusi terkait investasi naik drastis," kata Thomas. Aliran investasi yang masuk pasca pemilihan umum 2019, juga meningkat dari sebelumnya. Total jumlah investasi sepanjang semester I tahun 2019 meningkat 9,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, yakni Rp361,6 triliun. Realisasi itu secara persentase lebih tinggi daripada 2018 yang hanya tumbuh 7,4 persen. Menurut Thomas Lembong, mengutip data 15 tahun terakhir, setiap tahun pemilu investasi pasti melambat. Tetapi, setelah pemilu, kata dia, investasi pasti kencang atau ada pemulihan yang kencang pascapemilu.

  Beberapa investor besar seperti Hyundai Motors Company (HMC) dan Softbank diketahui sedang menjajaki untuk menanamkan investasi ke Indonesia. Thomas menyatakan pemerintah dan Hyundai sedang melakukan negosiasi terkait paket insentif. "Kami masih di tengah negosiasi sengit mengenai insentif. Kami pasang target sebelum pertemuan tingkat tinggi di Busan saat Asean-Rok Commemorative Summit atau sebelum November 2019," jelas Thomas. Data yang dikumpulkan sampai Rabu (31/7/2019), menunjukkan, jumlah investasi sepanjang tahun lalu hanya tumbuh 4,1 persen dari Rp692,8 triliun menjadi Rp721,3 triliun. Capaian itu melambat dibandingkan posisi realisasi investasi 2017, yang meningkat hingga 13,1 persen. Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution semringah karena realisasi investasi terbilang moncer. Pada semester I tahun 2019, investasi tumbuh 9,4 persen menjadi Rp395,6 triliun atau menguat dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni 7,4 persen. Realisasi investasi tersebut diklaim dapat menghapus anggapan sejumlah orang atau kalangan yang menyebut 16 paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan pemerintah tak efektif. Darmin mengaku sempat gerah dengan pemberitaan yang menyebut paket kebijakan ekonomi berjalan lamban. Meskipun, ia mengakui kebijakannya tak memiliki dampak secara langsung, namun perlahan. ***


Disclaimer:
Berita ini merupakan kerja sama Asosiasi Emiten Indonesia dengan Emitennews.com.
Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Emitennews.com.